Sabtu, 20 Desember 2014

6 Agustus 2014



Jakarta, 6 Agustus 2014. Mungkin ini adalah momen yang paling ditunggu oleh Juventini se-Indonesia. Karena pada tanggal ini lah mimpi mereka untuk melihat sosok idola secara langsung menjadi nyata. Impian untuk melihat, Giorgio “King Kong” Chiellini, Andrea “Il Metronome” Pirlo, hingga Gianluigi “Super” Buffon bukanlah angan semata. Juventini Indonesia bisa melihat idola mereka bermain langsung di Stadion kebanggaan Indonesia, Gelora Bung Karno.
Untuk itu Juventus Club Indonesia, selaku komunitas Juventini terbesar se-Indonesia memanjakan anggotanya dari daerah untuk berjumpa dengan sang idola, dimulai dari pembelian tiket, penampungan peserta, dan tentun saja sarana transportasi dari tempat penampungan ke GBK. Momen ini adalah momen terbesar JCI semenjak didirikannya, yaitu pada tahun 2006. Tentu saja ini adalah momen yang tak terlupakan bagi sebagian Juventini di Indonesia.
Kedatangan Juventus ke Indonesia tidak disia-siakan oleh kebanyakan Juventini, ada yang rela menunggu di bandara, menyambut di hotel tempat pemain Juve beristirahat, dan tentu saja sambutan yang paling berkesan adalah pada saat pertandingan, banner-banner besar berhamburan, cori-cori (chant) diteriakan lantang, dan pada menit akhir red flare berkobaran. Amazing.
Pihak Juventus sendiri terkesan dengan apa yang dilakukan oleh fans mereka di Indonesia, dan bahkan mereka menganggap bahwa Indonesia adalah rumah kedua. Berikut adalah beberapa komentar dari pemain Juve tentang sambutan fans di Indonesia.
"Indonesia ... Kandang kedua kami," tulis Marchisio di akun Twitter sembari mem-posting gambar Juventini yang membentangkan spanduk dukungan.
Hal senada juga diungkapkan oleh gelandang asal Ghana, Kwadwo Asamoah. Menurutnya, atmosfer yang diciptakan suporter di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) sangat luar biasa.
"Atmosfer di stadion malam ini sulit dipercaya! Terima kasih Indonesia," kicau mantan punggawa Udinese tersebut.
Sementara itu, bomber Fernando Llorente yang mencetak hattrick ke gawang ISL Stars sengaja mendedikasikan torehannya itu kepada pendukung setia di tanah air.

"Pertandingan yang hebat. Tiga gol saya dedikasikan bagi suporter fantastis Indonesia. Forza Juve," tulis pemain asal Spanyol itu.
Juventus sukses membungkan ISL Stars dengan skor 8-1. Tertinggal lebih dulu lewat gol Srdan Lopicic, “La Fidanzata d'Italia” berhasil membalikkan keunggulan melalui gol dari Llorente (3 gol), Andrea Pirlo, Sebastian Giovinco, Kingsley Coman, Simone Pepe dan Carlos Tevez. (nm)

Jumat, 15 Agustus 2014

Perawan



Kamu masih perawan? Pertanyaan yang kebanyakan ditanyakan setiap lelaki kepada pasangannya. Kebanyakan lelaki memang menginginkannya. Egois bukan? Di budaya Timur keperawanan sangat dijunjung tinggi, ibarat mahkota yang tak boleh dilepas begitu saja. Tapi untuk mencari perawan di kota besar seperti Jakarta sangatlah sulit. Pergaulan merajalela, muda-mudi banyak yang bersenggama, baik dari Mahasiswa, SMA, SMP, bahkan SD sekalipun ada yang sudah melakukannya. Semuanya jelas melanggar norma. Budaya kita jelas kalah oleh budaya mereka di Barat sana, kebebasan dalam bergaul jelas itu dari sana, kebudayaan Timur yang menjunjung norma terkikis dengan mudahnya.
Tapi egois apabila lelaki menuntut keperawanan dari para wanita, lelaki dengan bebasnya menutut keperawanan. Lelaki dengan seenaknya melepaskan keperjakaan mereka di mana dan kapan saja, tanpa mengenal norma, dan bebas menikahi wanita mana saja, entah perawan ataupun tidak. Bahkan mereka percaya akan beberapa mitos tentang tentang mencari tahu keperawanan wanita. Mulai dari melihat cara mereka berjalan, melihat dari badannya, maupun dari darah yang keluar ketika malam pertama. Percayakah? Kalu saya tidak.
Kasihan mereka yang keperawanannya direnggut dengan paksa, kasihan mereka yang masa lalunya terbuai oleh cinta yang berlandaskan nafsu belaka, dan kasihan mereka yang sudah diucapkan janji cinta dan dibuang begitu saja. Jadi apa yang anda lakukan ketika pasangan yang anda cinta sudah direnggut mahkotanya? Akhiri atau lanjutkan?
Kebanyakan lelaki Indonesia yang kebanyakan menganut budaya timur pasti merasakan dilema. Biarpun kebanyakan dari mereka banyak yang sudah melepaskan cairan kenikmatan ke beberapa wanita, entah itu mantannya atau wanita penggoda. Tapi jelas, mereka menuntut keperawanan wanita yang akan dinikahinya, terlalu banyak alasannya.
Tapi sebenarnya cinta dan keyakinan lebih kuat daripada tuntutan mendapatkan yang “pertama”. Cinta dan keyakinan mampu mengalahkan ego, beda halnya dengan nafsu yang selalu menuntut. Cinta mampu merubah keraguan, mampu menerima segala kekurangan, tidak menuntut, dan memberi segenap rasa. Ya seperti itulah kiranya.

Rabu, 30 Juli 2014

La Fidanzata


Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog #JuveINA14 dari Nine Sport Inc. untuk memenangkan tiket meet and greet dengan para pemain Juventus. Follow @ninesportinc untuk informasi lebih lanjut.” 


Jika ditanya bagaimana saya mencintai Juventus? Well akan saya ceritakan dengan senang hati. Semua bermula ketika saya duduk di bangku SD, layaknya seorang anak, saya sibuk akan dunia permainan, dan saat itu sedang booming game console Playstation, dan hampir di setiap rental yang saya kunjungi pasti memainkan Winning Eleven. Ya game legendaris tentang sepak bola. Loh di mana awal suka Juventusnya?  Sabar.
Di game ini lah saya pertama kali suka dengan warna hitam putih. Semua berawal ketika saya baru mempunyai console game ini. Awalnya saya hanya mengenal negara, maklum ketika itu euforia Piala Dunia 1998 masih terasa. Brazil dengan Ronaldo nya, Italia dengan Del Piero, dan tentu saja sang juara ketika itu yaitu Prancis dengan Zidane nya yang melegenda.
Oh iya, saya mempunyai dua orang kakak, dan kedua orang itu lah yang membuat saya jatuh cinta kepada La Vechia Signora meskipun tidak secara langsung, namun pengaruh dari mereka cukup besar. Kakak saya yang pertama hampir dalam setiap permainan WE selalu memakai Prancis sedangkan yang satunya tanpa pernah ketinggalan memakai Gli Azzuri, dan saya hanya menjadi penonton ketika itu, akan tetapi dari situlah saya menemukan cinta, saya melihat sosok Zidane dan Del Piero, keduanya adalah maestro, beda negara memang, dan saya membayangkan apabila kedua maestro tersebut bermain bersama. Tanpa menunggu lama ternyata mimpi saya menjadi kenyataan, ternyata kedua maestro tersebut bermain bersama.
Juventus. Iya mereka bermain di sana, dan dari situlah saya jatuh cinta kepada tim yang berdiri pada 1 November 1897. Rasa cinta pada tim, terlihat lucu memang bagi sebagian orang, namun bagi sebagian lainnya ini adalah suatu yang sangat berarti. Ah saya tak peduli sang kekasih dicerca, lebih-lebih ketika yang terkasih terjerembab ke lubang serie-B pada tahun 2006, segala hinaan dan cacian adalah makanan, tapi karena sudah cinta, mau bagaimana?
Banyak cara yang saya lakukan untuk menunjukan rasa cinta saya kepada tim ini. Antara lain dengan berdiri selama 90 menit dengan cori-cori Itali. Karena menurut saya hanya itu hal termudah yang bisa dilakuan untuk tim yang saya cintai. Ya seperti salah satu potongan cori untuk yang terkasih yaitu “canteremo fino alla morte” yang berarti saya akan bernyanyi untukmu (Juventus) sampai mati. Berlebihan memang, tapi ini adalah cinta.
At least, saya mempunyai mimpi untuk menonton sang terkasih secara langsung, bukan di belakang layar, tapi di stadion, dan sepertinya mimpi itu akan menjadi nyata, salah satunya berkat Nine Sport yang sudah rela sibuk untuk mewujudkan mimpi banyak Juventini di Indonesia. Grazie. Semoga tahun depan kalian sudi untuk mendatangkan kembali “La Fidanzata” atau sang terkasih.