Senin, 28 Agustus 2017

Orangtua, Gadget, dan Buku

Jika kita perhatikan sekitar, kita bisa langsung berasumsi bahwa generasi sekarang sangatlah dekat teknologi, terutama gadget, jadi wajar jika generasi ini disebut dengan ‘generasi multimedia.’ Karena semakin majunya teknologi, makan semakin penting pula peran orangtua dalam mendidik anak-anak mereka. Sebab jika kita amati, banyak sekali orangtua yang sudah memperkenalkan gadget kepada buah hatinya sejak dini. Bahkan menurut Kaiser Family Foundation, kebanyakan anak-anak sekarang menghabiskan waktu dengan gadget selama7 jam setiap harinya, dan yang lebih parahnya lagi adalah ada beberapa anak yang mahir menggunakan gadget padahal anak tersebut belum bisa berjalan. Jelas, ini bukan kabar baik, karena semakin sering anak bersentuhan dengan gadget maka akan semakin sulit mereka lepas dari gadget. Hal tersebut tentu saja akan mempengaruhi pola kembang dan pikir anak, terutama peran orangtua dalam mendidik anak.
 Steve job, yang merupakan salah satu founder Apple membatasi anak-anak mereka dalam penggunaan teknologi. Begitupun dengan CEO OutCast Agency, Alex Constantinople. Menurutnya belum waktunya anak-anak dikenalkan dengan gadget, dia sendiri tidak memperbolehkan anak bungsunya yang berumur 5 tahun untuk menggunakan gadget. Bahkan untuk anak sulungnya yang berumur 13 tahun hanya diberikan waktu 30 menit/hari dalam menggunakan gadget. Berkaca dari kedua tokoh besar yang justru sangat dekat dengan kemajuan teknologi tersebut, hendaknya para orangtua mampu mengontrol anak-anak mereka dan juga memberikan opsi lain selain gadget untuk buah hati mereka.

Berbicara tentang opsi, sebenarnya ada banyak opsi untuk menggantikan gadget sebagai sarana untuk menghabiskan waktu luang. Buku salahsatunya, buku bisa menjadi opsi lain bagi anak-anak untuk meluangkan waktu, biarpun kini banyak orangtua yang mulai jarang melakukannya, akan tetapi hal tersebut bukan tidak mungkin untuk digalakkan. Sebenarnya selain sebagai opsi, orangtua bisa menjadikan buku sebagai pondasi awal dalam mendidik anak. Tak perlu buku yang penuh tulisan, melainkan buku-buku bergambar yang bisa memancing ketertarikan buah hati mereka terhadap dunia literasi.  Seperti gadget, jika sedari dini buah hati sering bersentuhan dengan buku, makan akan semakin sulit juga untuk melepasnya. Karena dengan semakin banyaknya orangtua yang peduli tentang pentingnya buku bacaan terhadap anak-anak mereka, maka bukan tidak mungkin selain untuk menyaingi kedigdayaan gadget di tengah masyarakat, lewat peran orangtua tingkat literasi Indonesia bisa menjadi lebih baik lagi, dan tentunya semakin baik tingkat literasi di Indonesia maka akan semakin baik pula tingkat pendidikannya.

Jumat, 17 Maret 2017

Bergerak, sedikit

Empat hari di Kab. Bandung Barat, dan kesemua harinya menyenangkan,  karena jarang bersentuhan dengan berita-berita yang berseliweran di dunia maya. Akan tetapi sepulangnya dari sana saya langsung dikagetkan oleh berita-berita yang membuat hati saya terenyuh. Mulai dari kasus pedofilia yang semakin marak, bahkan ada grup khusus di facebook yang berisikan kaum-kaum ini. Selain berita tentang kaum pedofilia saya juga dikagetkan dengan berita aksi bunuh diri seorang pria yang disiarkan langsung di  facebook. Dan yang membuat saya mengernyitkan dahi kedua kasus tersebut dekat dengan yang namanya sosial media.
Kita sepakat, bahwa sosial media bagaikan pisau bermata dua. Di satu sisi, sosial media mempunyai dampak positif, dengan dibukanya sumber informasi banyak orang merasakan manfaatnya, namun di sisi lain justru sebaliknya, ada sebagian orang lagi yang merasakan dirugikan. Kita tidak bisa secara radikal melarang penggunaan sosial media, meskipun di sana bertebaran dampak negatif. Kita juga tidak bisa memberi kebebasan sebebas-bebasnya penggunaan sosial media, terutama ke anak-anak, karena jangankan anak-anak, orang dewasa saja masih banyak yang kurang bijak menggunakannya. Oleh karena itu, menurut saya, perlu adanya controlling penggunaan sosial media, baik dari atas hingga bawah, dari pemerintah hingga orang tua.
Selain pemerintah dan orang tua, sekolah juga mempunyai peranan penting dalam membantu mengontrol penggunaan sosial media. Kalau perlu disisipkan sedikit di kurikulum, karena jika kita lihat sekarang penggunaan sosial media sudah sangat massive jadi perlu adanya penanganan khusus, terutama dalam aspek pendidikan. Tujuannya jelas, untuk mengajarkan anak-anak bagaimana mengguanakan sosial media dengan bijak. Karena jika kita perhatikan beberapa tahun ke belakang, banyak sekali keteledoran-ketelodaran masyarakat dalam menggunakan sosial media, dan besar kemungkinan jika terus dibiarkan generasi yang akan datang bisa terkena dampak yang jauh lebih parah.

Oleh karena itu, sebagai penutup, saya mengajak pembaca untuk lebih bijak lagi menggunakan sosial media, dan turut serta mengontrol anak ataupun adik-adik kita yang lebih kecil. Karena meskipun sedikit pasti akan ada dampak positifnya, sehingga berbagai macam kasus di paragraf pertama tidak kembali terulang. Semoga.